Ketaatan kepada makhluk-NYA

Patuh atau taat adalah suatu sikap tunduk dan percaya pada pembuat aturan dan menjalankannya dengan kesungguhan, ketaatan kepada Alloh, Rosul-NYA, orang tua, pemimpin/atasan dan orang-orang mukmin yang mengajak kepada kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)

Jelas sekali dalam ayat diatas, bahwa ketaatan yang paling pertama adalah untuk Alloh dan Rosul-NYA. Taat kepada pemimpin, pemerintah dan atasan jelas kedudukannya berada dibawah Alloh dan Rosul-NYA.

Ketaatan kepada Alloh dan Rosul-NYA sudah merupakan suatu kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar, wajib untuk dilaksanakan tanpa memilih dan memilah bagian mana yang harus ditaati dan bagian mana yang boleh dilanggar. Hidup diatas ketaatan ini adalah hidup terindah dan berkualitas, karena sejatinya kehidupan di dunia ini hanyalah tempat singgah sementara untuk mengumpulkan bekal dalam perjalan kehidupan yang abadi setelah ini. Jelas, sebaik-baik bekal untuk kehidupan yang abadi nanti adalah taqwa; menjalankan segala perintah-NYA dan meninggalkan segala larangan-NYA. Hal ini sesuai dengan firman-NYA dalam surah al-baqarah ayat 197 yang artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-KU hai orang-orang yang berakal”

Ayat diatas merupakan sepenggal ayat yang menjelaskan perjalanan haji seorang hamba, yang mana haji itu merupakan satu miniatur perjalanan hamba menuju Rabb-NYA. Maka pantaslah jika taqwa pun merupakan bekal terbaik nanti ketika kita menjalankan perjalanan yang sesungguhnya menuju Rabbil ‘alamin.

Satu hal yang kita soroti tentang ketaatan adalah ketaatan seseorang kepada pemimipin atau atasan atau orang yang disegani di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal. Tidak bisa kita nafikan bahwa ketaatan kepada atasan di instansi, perusahaan atau tempat kerja lainnya mutlak harus diutamakan oleh seorang pekerja. Taat dan patuh pada aturan yang telah dibuat oleh atasan terkadang menjadi harga mati.

Pada dasarnya taat dan patuh kepada pemimpin atau atasan merupakan ajaran Islam. Hal ini telah dicontohkan oleh sahabat-sabahat Rosululloh SAW, bagaimana patuhnya mereka pada perintah atasan baik itu pada Rosul SAW atau sahabat lain yang diberi amanah untuk memimpin. Ketaatan seorang Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA kepada Amr bin Ash panglima perang Dzatus Salasil yang jauh lebih junior daripada mereka berdua, namun dengan penuh keyakinan Abu Bakar dan Umar patuh kepada penglima perang mereka dan pasukan Islam memperoleh kemenangan dalam perang tersebut.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rosululloh SAW bersabda:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
Wajib bagi setiap lelaki muslim untuk mendengar dan taat (kepada atasan), baik ketika dia suka maupun tidak suka. Selama dia tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengarkan maupun mentaatinya“. (HR. Bukhari 7144, Abu Daud 2626 dan yang lainnya)

Hadits diatas jelas sekali menjelaskan bahwa taat dan patuh merupakan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rosul SAW dan diimplementasikan oleh para sahabat yang mulia. Hendaknya ketaatan kepada pimpinan tidak melebihi ketaatan kita kepada Alloh; kita tepat waktu masuk kerja namun kita lalai untuk sholat diawal waktu, seharusnya kita tepat waktu masuk kerja dan tepat waktu juga menjaga sholat diawal waktu. Ada batasan dalam taat kepada atasan atau pimpinan, yaitu ketika atasan menyuruh bermaksiat maka terhentilah ketaatan padanya.

Dewasa ini, sebagian dari kita larut dalam ketaatan buta kepada pimpinan atau atasan. Kita lakukan apapun demi menyenangkan hati pimpinan, terkadang hal itu bertentangan dengan syariat. PHK; menjadi alasan klasik untuk mentaati apapun yang diperintahkan atasan. Yaa, kebutuhan ekonomi membutakan kita, menjadikan ketaatan kita ketaatan yang buta yang rela menabrak syariat. Di beberapa tempat kerja, terkadang ada atasan yang membatasi jam istirahat anak buahnya, sehingga waktu sholat terabaikan, hilang waktu sholat karena waktu istirahat yang tak cukup. Naudzubillah.

Jika kondisi seperti ini yang kita hadapi, maka resign dari pekerjaan tersebut merupakan solusi kongkrit, mencari rezeki di tempat lain yang lebih nyaman dan tentunya kenyamanan tersebut berkaitan dengan keleluasaan menjalankan ibadah. Bukankah Alloh SWT Maha Kaya?? Dia memberi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki. Yakinlah bahwa rezeki-NYA bertebaran di muka bumi ini, kita hanya butuh usaha dan doa untuk mendapatkan rezeki tersebut.

Semoga Alloh memberi kita kekuatan untuk membedakan mana haq, mana bathil. Aamiiin_

Iklan

Berikan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s